Sejarah Bendera Merah Putih
1 Apr 2014 , bendera

Sejarah Asal-Usul Bendera Merah Putih


Secara etimologi, bendera merupakan secarik kain kibaran yang berwarna, kadang-kadang juga bergambar dan/atau bertulisan, yang dikibarkan sebagai lambang cita dan tanda kehormatan dari yang menggunakan. Kata bendera itu sendiri berasal dari Bahasa Portugis, yaitu bandara yang berarti kibaran cita.

Bendera Merah Putih memiliki latar sejarah yang panjang, yaitu dimulai pada 4000 tahun sebelum masehi. Pada saat itu terjadi perpindahan orang-orang Astronesia ke wilayah Indonesia timur dan barat. Pada zaman itu manusia mempunyai cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra (Aditya=matahari, Candra=bulan).

2000 tahun berikutnya terjadi perpindahan manusia kedua ke wilayah nusantara dari Asia Tenggara. Para imigran itu berbaur dengan imigran terdahulu yang masuk ke nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.

Pada zaman itu muncul kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup, yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup. Getah berasal dari tumbuhan yang berwarna putih dan getih (Bahasa Sunda) yang berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dari kepercayaan ini, maka merah putih menjadi warna keagungan atau pujaan.

Bukti-bukti tersebut terdapat pada ukiran-ukiran pada nekara (genderang besar dari perunggu), waruga (nisan), tugu, lukisan, arca, dan lain sebagainya.

Pertama kali manusia memakai kain sebagai identitas bangsa pada tahun 1122 sebelum masehi. Pada mulanya mereka memakai lencana atau emblem tetapi kemudian diganti memakai kulit atau kain yang dikibarkan di puncak tiang sehingga mudah dilihat dari kejauhan. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera dengan sangat sederhana, yaitu untuk menyimbolkan kehadiran raja atau pejabat tinggi negara. Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah dan tanda damai saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa negara di dunia.

Bendera Merah Putih telah lama dikenal dan salah satu buktinya terdapat pada dinding Candi Borobudur yang merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya. Pada dinding tersebut bertuliskan pataka dengan di bawahnya terdapat lukisan tiga orang pengawal yang membawa bendera Merah Putih yang sedang berkibar. Pada Candi Prambanan terdapat gambar Prabu Erlangga yang digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu burung Garuda yang juga dikenal sebagai burung Merah Putih. Maka sejak dari itu, warna merah putih dan burung garuda telah mendapat tempat di hati Bangsa Indonesia.

Pada masa kerajaan Majapahit warna merah dan putih banyak sekali digunakan. Contohnya dipakaikan sebagai nama putri Dara Jingga dan Dara Perak (Jingga=merah dan Perak=putih). Keraton Hayam wuruk juga dikenal dengan keraton merah putih, karena dindingnya yang terbuat dari bata warna merah dan lantainya yang berwarna putih. Dalam buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca menceritakan digunakannya warna merah dan putih pada upacara kebesaran. Ketika perang Diponegoro pada 1825-1830 di tengah-tengah ribuan pasukan Diponegoro juga terlihat kibaran bendera Merah Putih.

 

“Ibarat gelombang samudra yang tak kunjung reda, perjuangan rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra-putra Indonesia yang dipimpin oleh Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanuddin dari Makassar, Sisingamangaraja dari Sumatra Utara, Tuanku Imam Bonjol dan Teuku Umar di Aceh, Patimura di Maluku, Pangeran Diponegoro di tanah Jawa, dan perjuangan lainnya di nusantara yang bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan. Hambatan dan rintangan silih berganti, tiada suatu kekuatan pun yang dapat menghambat berkibarnya bendera Bangsa Indonesia si Bumi Nusantara ini”.


Pada abad ke-20, pergerakan perjuangan Bangsa Indonesia mulai lebih terarah. Pada 1908 didirikan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan Bangsa Indonesia, selain itu pada 1922 didirikan yayasan Taman Siswa di Yogyakarta. Pada saat itu, bendera merah putih dikibarkan walaupun masih berlatar hijau. Di tahun yang sama, pemuda Indonesia di negeri Belanda juga mengibarkan bendera merah putih dengan simbol kepala kerbau di tengahnya.

Pada 1928 tepatnya pada kongres Pemuda digunakanlah hiasan merah putih tanpa gambar atau tulisan sebagai warna bendera kebangsaan, dan untuk pertama kalinya lagu Kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, pengibaran bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan indonesia Raya dilarang, karena pihak penjajah mengetahui pasti hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan untuk merdeka. Barulah pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih diijinkan berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada tahun itu juga dibentuk panitia yang bertugas untuk menye¬lidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera Merah Putih.

Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proKiamasi dikibarkanlah untuk pertama kalinya bendera Merah Putih yang tidak saja sebagai bendera kebangsaan tetapi juga sebagai bendera Negara Kesatuan Republik indonesia, yang kemudian disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 35 dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang pertama. Bendera yang berkibar pertama kali di Pegangsaan Timur 56, kemudian kita kenal dengan nama Sang Saka Merah Putih dan ditetapkan sebagai bendera pusaka.

Pada tanggal 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia oleh badan dunia.

Demikianlah Sang Merah Putih dijadikan bendera kebangsaan dan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Warna merah dan Putih telah ribuan tahun menjadi warna pujaan yang sangat dimuliakan, sesuai dengan kepercayaan yang dianut waktu itu dan telah mendarah daging.